
Bismillahirahmanirahiim
Assalamualaikum warahmatullah wabarokatuh
Alhamdulillah puji syukur kita hanya kepada Allah dan untuk Allah semata, kita masih diberikan kesempatan untuk bisa menerima ilmu dari-Nya
Alhamdulilah..
Sebelum materi dimulai, seperti biasa, yuk sama sama kita berdoa terlebih dahulu
Bismillahirrahmanirrahiim
Sampai dengan pertemuan ini, alhamdulilah kita sudah membahas berbagai hal yah
Namun rasanya pembahasan pembahasan yang kemarin kurang sempurna jika tidak diiringi dengan langsung praktek
Ibarat hanya orang ikutan makan yang bisa menikmati enaknya rasa makanan yang dimakan
Begitu juga, hanya orang yang praktekklah yang dapat merasakan perubahan dan perbaikan dalam kehidupannya.
Sebelum sampai disini, pastikan teman teman sudah melewati dan memahami materi sebelumnya ya,
pokoknya jangan langsung loncat ke materi ini, gak bisa, pelajari sesuai urutannya hehe.
Jadi bagi sebagian besar orang, mereka sangat mengkhawatirkan sesuatu yang sudah terjamin namun mengabaikan yang belum dijamin.
Apa yang sudah jelas jelas dijamin namun menjadi kekhawatiran terus menerus?
Yaitu rezeki..
Kita perlu sepakat dulu bahwa rezeki itu bukan semata mata uang, tapi uang hanya salah satu bentuk dari rezeki
Ada beberapa poin tentang orang dengan uang dan rezekinya
Begini teman teman:
✅ Ada orang yang punya banyak uang, namun tidak punya kelapangan rezeki
Saldonya banyak sih, penghasilannya banyak namun itu semua tidak bisa dinikmati.
Misalnya, mereka bisa beli makanan enak, namun tidak bisa memakannya karena mungkin ada suatu penyakit
Mereka bisa membeli kasur yang empuk, namun tidak bisa tidur nyenyak karena stress mikirin harta.
dll
✅ Ada orang tidak punya uang, namun punya kelapangan rezeki
Secara angka rupiah tidak banyak yang mereka punya.
Namun ketika ada suatu kebutuhan, qodarullah selalu cukup dan selalu ada, mungkin mereka tidak punya uang yang cukup untuk bisa umroh, tapi tiba tiba ada saudaranya yang memberangkatkan umrah,
ketika butuh suatu, mungkin dia gak punya, tapi ada aja yang mau membantu dan meminjamkan, dan lain lain
✅ Ada orang yang tidak punya uang dan tidak punya kelapangan rezeki
Ini bisa disebut kuadran yang kurang beruntung.
Kehidupannya diisi dengan bermalas malasan, menutup diri dari banyak orang, enggan belajar dan enggan berbuat kebaikan, dalam pikirannya selalu serba kekurangan yang mungkin jadi kenyataan.
✅ Ada orang yang punya banyak uang dan punya kelapangan rezeki
Kalau sebelumnya kuadran yang kurang beruntung.
Kalau ini sebaliknya hidupnya serba berkecukupan, berkelimpahan dan yang terpenting penuh dengan keberkahan, berdaya dan mampu memperdayakan, kaya dan mampu membuat orang lain kaya.
Mereka ini orang orang yang menyeimbangkan antara pencapaian dan penghambaan
Terlepas dari poin diatas, sebagai orang beriman, yang paling penting adalah :
Kita yakin bahwa rezeki itu sebuah kepastian (mutlak) untuk semua makhlukNya , jadi jangan dikhawatirkan, tidak perlu dirisaukan, tidak perlu digalaukan, apalagi di stress kan.
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)” (QS.Hud : 6)
Allah sampaikan secara jelas, makhluk yang melata sekalipun (tidak punya tangan dan kaki) dapat jatah rezeki dari Allah.
Apalagi kita (manusia) yang diciptakan sebaik baiknya bentuk?
Maka dengan adanya makhluk lain atau orang lain, tidak akan pernah mengurangi jatah rezeki yang lainnya.
Dengan keyakinan yang begitu sudah semestinya kita menenangkan hati perihal urusan rezeki.
Menjalani kehidupan dengan jaminan Allah, bukan kehidupan yang di bayang bayangi perasaan takut kekurangan dan kemiskinan ⛔️
Kita bisa demikian ketika kita memiliki mindset seorang hamba Allah yaitu mindset berkelimpahan dan berkecukupan.
Bukan mindset yang serba kekurangan, takut gak kebagian dan selalu merasa kurang
Juga, kita akan memiliki mindset berkelimpahan dan berkecukupan, jika satu satunya tempat bergantung dan menyerahkan segala urusan kepada Allah (Ar-razaq)
Ini adalah langkah awal, dimulai dari kita benar benar kenal dan dekat dengan Dzat yang memberikan kita rezeki dan paham akan sifat dari rezeki.
Bagaimana kita yakin akan jaminan rezeki, kalau kita sendiri tidak kenal/tidak dekat dan tidak yakin kepada yang memberi rezeki?
Sebagai contoh 👇
Misalnya ada kabar omongan tetangga kalau esok hari akan datang orang dermawan ke rumah kamu
Kemudian beliau akan memberikan kamu rumah mewah dan sebidang tanah yang luas.
Kira kira bakal percaya gak sama omongan tetangga itu? hehe
Mungkin jawaban kamu begini
“Ah, gak mungkinlah, orang dari mana, pasti ngada ngada tuh beritanya”
Betul? ^^
Namun apa jadinya kalau sejauh ini kamu memang akrab sama orang dermawan tersebut?
Beberapa waktu ini memang sering chatingan dan berhubungan baik sama raja Salman
Kemudian beliau langsung yang bilang mau ngasih rumah dan sebidang tanah yang luas, kalau begini kira kira percaya?
Pasti percaya ya
Nah ibaratnya begitu teman teman …
Mungkin ini penyebab kita muncul perasaan kurang percaya sama janji janjiNya dan tidak yakin sama kepastian jaminanNya.
Lantaran karena kita yang belum terlalu kenal dan tidak dekat dengan-Nya
Sehingga yang muncul adalah perasaan tidak yakin dan tidak percaya
Coba aja teman teman menitipkan barang berharga kepada orang tidak dikenal.
Gimana rasanya? Was was? Khawatir?
Bandingkan dengan menitipkan barang kepada orang yang sudah dekat dan sudah percaya.
Pasti akan jauh lebih tenang, betul?
Nah jika kita mau mengenal Allah dan mau dekat dengan-Nya.
Kita pun akan merasakan ketenangan dalam menyerahkan kehidupan kita dibawah jaminan-Nya
Maka materi kita sebelumnya adalah mengenai pembelajaran untuk kita terus mau mengenal dan dekat dengan Ar Razaq, yaitu Allah…
Temen temen semua..
In syaAllah dalam materi ini kita akan gunakan banyak analogi, guna memudahkan dalam memahami isi materi
Mudah mudahan Allah izinkan agar penyampaian ini mudah kita pahami, aamiin
Jika sebelumnya kita membahas seputar organ paling penting yaitu hati,
Maka dalam materi ini kita masih bahas perihal hati dalam perspektif yang agak berbeda
Namun fundamental terpentingnya berada di materi sebelumnya.
Hatinya harus hidup terlebih dahulu, harus sehat dahulu sebelum melanjutkan ke materi berikut ini..
Sip ya?
Setelah sebelumnya kita memahami bahwa segala hal tergantung pada hati dan berkenaan dengan hati.
Begitupun dengan keluasan rezeki sangat berkaitan dengan hati kita..
Tepatnya keluasan hati dan kekayaan hati..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan,
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْس
“Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim; dari Abu Hurairah)
Dalam kesempatan lain, kita sama sama tau doa Nabi Musa saat menghadapi Firaun, doa yang bahkan kita sudah hafal:
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’
“Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)
Mungkin kita bertanya tanya.
Mengapa ya dalam doa tersebut Nabi Musa meminta dilapangkan atau diluaskan dulu dada atau hatinya, baru kemudian minta dilapangkan urusannya?
Apakah hanya kebetulan? atau gak sengaja?
Tidak mungkin, Al qur’an itu sempurna..
Poinnya adalah, pernah gak sih teman teman dalam kondisi punya banyak masalah, mengalami tekanan hidup begitu melelahkan?
Sehingga kadang batin tuh merasa capek banget hingga hopeless
Atau pernah gak merasa kok rezeki segini gini aja ya? seret banget, padahal sudah kerja keras.
Mungkin teman teman…
Jawabannya lantaran hati kita yang masih sempit, kapasitas diri kita yang masih kecil
sehingga saat menghadapi masalah kecil saja seolah menjadi sangat berat dan sangat besar, lalu saat mendapat rezeki yang besar seperti ada plafon yang membatasi.
Padahal teman teman, rezeki Allah itu ibarat air hujan yang mengalir, begitu lebat dan deras.
Masalahnya, kita tidak menampung air hujan yang mengalir begitu lebat dengan wadah yang lebih besar.
Melainkan kita menampung air hujan tersebut menggunakan gelas yang kecil.
Makanya rezeki kita hanya sebatas gelas kecil tersebut.
Wadah untuk menampung air hujan ibarat hati dan kapasitas diri kita.
Jika wadah yang kita siapkan besar dalam artian jika hati kita besar dan luas otomatis rezeki yang tertampung juga banyak, masuk akal? ☺️
Dalam permisalan yang lainnya, rezeki itu seperti pesawat terbang yang besar dan hati ibarat landasannya
Mustahil bukan, pesawat terbang yang besar bisa mendarat di landasan yang kecil di jalan yang sempit?
Rezeki yang besar pun mustahil mendarat di orang yang hatinya masih sempit..
Kita balik ke doa Nabi Musa.
Itulah mengapa Nabi Musa minta dilapangkan dahulu hatinya, baru minta dimudahkan urusannya.
Karena tidak mungkin segala urusan kita bisa mudah kalau hati kita belum lapang dan belum tenang
Dan hati tidak akan bisa lapang jika tidak iman (kepercayaan)
Maka akarnya adalah iman atau percaya sepenuhnya kepada Allah.
In syaAllah ketenangan dan kelapangan hati akan datang
Jika boleh saya simpulkan, mengapa masalah bisa mudah selesai, rezeki mudah didapatkan dll nya?
Karena ada hati yang lapang.
Ketika hati sudah lapang dan tenang pikiran menjadi jernih, action yang dilakukan menjadi lebih powerfull.
Kehidupan menjadi lebih produktif, tidak dibayang bayangi kekurangan dan kemiskinan
Mengapa hati bisa lapang?
Karena yakin dan Iman (percaya) sepenuhnya kepada Allah
Ketika kita sudah iman (percaya) maka akan datang ketenangan, sehingga hati terasa tenang dan lapang..
Pertanyaannya lagi. kenapa bisa yakin/iman?
Karena mau kenal denganNya dan sifat sifatNya, mau mempelajari ayat ayatNya serta mau terus mendekat denganNya
Maka, simpul pertama kita adalah terus mencari, mengenal dan mau terus dekat denganNya.
Sehingga hati kita sepenuhnya percaya (iman) kepadaNya..
Bukan dipaksain tenang.
Tapi tenang beneran karena kita kenal dengan-Nya dan sifat sifat-Nya serta sepenuhnya yakin dan percaya dengan janji janji-Nya..
Seperti saat Nabi Musa dikejar Firaun hingga sampai di depan laut merah dan tidak ada lagi jalan keluar.
Di depan mata laut yang dalam terbentang luas dan di belakang mata seluruh pasukan Fir’aun siap membantai dengan seluruh tentaranya
Bukanya malah panik dan khawatir, Nabi Musa *tetap tenang* justru saat itu menenangkan kaumnya dengan berkata
“Sesungguhnya Akan datang petunjuk dari Tuhanku”
Padahal Nabi Musa belum tau loh apa bocoran petunjuk yang akan Allah berikan di saat keadaan genting tersebut
Begitulah harusnya kita sebagai orang beriman, di dalam keadaan apapun kita tetap tenang karena yakin bahwa Allah bersama dengan kita
Hingga pada saat itu datang petunjuk yang memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya.
Disini ada yang menarik, Nabi Musa tidak mempertanyakan kembali perintah-Nya
“Untuk apa memukul tongkat ke laut ini ya Allah?”
“Apa gunanya mukul tongkat ke laut sedangkan kami hampir tertangkap ya Allah?Harusnya bukan ini”
atau
“Worth it gak kalau tongkat ini saya pukul ke laut?”
Alih alih mempertanyakan, Nabi Musa langsung mengerjakan yang Allah perintahkan dengan YAKIN TANPA RAGU
Untuk lebih merasakannya, teman teman boleh nonton Vidio singkat ini
Bayangkan kita tengah berada di kondisi tersebut ^^
Sudah selesai nyimak vidionya?
Kalau sudah yuk kita lanjut ke sesi selanjutnya