
@momentpulih

Bismillahirahmanirahiim
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarokatuh
Alhamdulillah, segala puji bagi-Nya dan sudah sepatutnya tak henti hentinya lidah kita terus mengucapkan kalimat syukur atas segala nikmat dan rahmatNya
Alhamdulilah
Sebelum kita mulai, pastikan teman teman sudah menerapkan rules belajar ya hehe
Ambil posisi duduk yang paling nyaman
Belajar di tempat yang kondusif hilangkan gangguan gangguan dari luar
Jangan lupa siapkan catatan
Membaca perlahan dengan mindfull dan hati yang sudah tenang.
Tidak menyambi kegiatan lain saat belajar.
In syaAllah kita akan ngobrol ngobrol kembali dalam sesi ini ya
Pada permulaan, yuk sama sama kita buka dengan ta’awudz, agar kita dijauhkan dari gangguan dan godaan setan..
Karena apapun yang kita dijalan kebaikan, tentu tidak akan pernah disukai, bahkan dibenci oleh setan.
Oleh karenanya, kita sama sama memohon perlindungan dari Allah.
Hal kebaikan sekalipun, kalau Allah tidak ridha, tidak akan terjadi, begitupun sebaliknya, sebuah kemaksiatan, jika Allah izinkan terjadi, pasti terjadi..
Maka kita terus minta perlindungan Allah, agar dijauhkan dari keburukan keburukan, dan didekatkan kepada kebaikan kebaikan…
A’udzubillahi minasyaitonirrajiim
Kita mulai ya materinya, bismilahrahmanirahiim..
Teman teman, keluargaku semua..
Ditengah kesibukan kita saat ini..
Ditengah hiruk pikuk dan keriwehan kehidupan ini..
Atau ditengah rasa jenuh dan lelah saat mengerjakan rutinitas kehidupan..
Pernahkah di suatu titik hati temen temen rasanya hati tuh, lelaaaah sekali?
“Merasa hampa”
Apa kita diciptakan hanya untuk mengerjakan rutinitas dunia seperti ini saja?
Apa kita hanya diciptakan hanya untuk bekerja keras agar mendapatkan rezekinya sehingga menjalani rutinitas harian dengan perasaan yang hampa seperti ini?
Menjalani semua seperti kisah yang umumnya dijalankan kebanyakan orang di hari ini
Lahir > Sekolah > Kuliah > Bekerja > Menikah > Meninggal
Apakah kita dihadirkan hanya untuk melewati fase fase tersebut?
Dan yang menjadi masalah ketika kita terjebak dalam rutinitas tanpa makna, menjalani kehidupan ini tanpa kesadaran yang utuh, tanpa kehadiran yang penuh, bergerak tanpa tahu arah sebenarnya, berjalan tanpa adanya tujuan.
Sejenak coba kita berdiam dalam hening, menyadari kembali tujuan besar atas rutinitas yang kita lakukan
Menyadari kembali apa yang benar benar penting dalam hidup ini, mengevaluasi apa yang sebenarnya tidak penting.
Karena menetapkan tujuan adalah pondasi untuk kita menjalankan hidup ini dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
Dengan begitu apapun yang kita jalankan akan lebih meaningfull, maksimal dan lebih totalitas
Sehingga menjadi wasilah rezeki akan mengalir lebih deras
Jangan sampai kita melewatkan hal ini, sehihingga kita berlelah lelah untuk mengejar sesuatu yang “dikira” adalah tujuan dan puncak kesuksesan, namun saat sampai di ujung sana, yang ada hanyalah kehampaan.
Barulah kita tersadar dan tersungkur dengan penuh penyesalan, ditambah umur yang tidak bisa diulang.
Kesempatan hidup ini sekali saja dan hanya sebentarr, seperti kita yang sering bilang “Kayaknya baru kemarin yah”
Memang tidak terasa hehe
Tahu tahu sudah kepala tiga, tahu tahu semakin tua, tahu tahu meninggal dunia dan pada saat itulah kita semua akan ditanya hal yang sama “umurnya dihabiskan untuk apa saja?”
daan di titik itu, kalau boleh jujur, apa sih yang sebenarnya kita sesali di akhir hayat nanti?
Apakah isi saldo rekening kita yang belum terpenuhi?
Apa promosi jabatan yang belum sempat diraih?
Jumlah followers yang masih sedikit?
barang barang yang belum sempat terbeli?
Apa rumah mewah yang belum sempat dimiliki atau kendaraan impian yang belum sempat dimiliki?
Ami yakin pastii bukan itu semua
Maka, tugas terpenting yang harus kita lakukan adalah memastikan arah yang akan kita tuju.
Hidup itu bukan sekedar, hidup bukan sekedar mengumpulkan harta dan kekayaan, hidup bukan sekedar bekerja keras, menjalankan aktifitas dan tenggelam di dalam rutinitas
Adapun semua aktifitas kita, rutinitas kita, profesi, pekerjaan dan bisnis kita hanyalah kendaraan untuk mencapai tujuan tersebut
Tujuan apa itu?
Yaitiu Menjadi Hamba yang diridhai dan dicintai-Nya
Menjadi hamba yang Allah ridho dan Allah cinta adalah tujuan besar kita dan harus menjadi semangat utama di dalam menjalani kehidupan ini.
Bukankah setidaknya ada 3 tujuan manusia diciptakan
Yaitu untuk Ibadah, sebagai Khalifah dan Berperan dalam Dakwah.
Dalam sesi ini kita coba bahas sepintas pintas dalam poin poin yah ^^
1. Untuk badah
Seperti yang Allah sampaikan dalam surat Az Zariyat ayat 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: “Aku (Allah) tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali Aku ciptakan agar mereka menyembah kepada Ku”
Ya, maksud dan tujuan kita diciptakan adalah untuk menyembah Allah, mengabdi dan bergantung hanya kepada Allah.
Bagi sebagian teman teman, mungkin sudah bosan dengan pernyataan ini
“Ahh saya juga sudah tahu Kak” sehingga tidak terlalu mempertanyakan hal ini
Namun begini teman teman,
Pernah gak sih, waktu kita kecil dulu dengan polosnya kita mempertanyakan hal ini ke diri sendiri:
“Kenapa ya, kok aku diciptakan dan dihidupkan? sehingga ada di dunia ini
Kemudian setelah itu diperintahkan untuk shalat (Read : Ibadah) ditambah lagi ada ancaman pula, kalau tidak mau ibadah dimasukan kedalam neraka?”
Padahal ada gak dari teman teman yang minta untuk diciptakan?
Maka bisa jadi, pemahaman kita dulu membuat framing yang kurang tepat
Sehingga dulu waktu kita masih kecil bahkan (bisa jadi) hingga sekarang merasa malas dan merasa berat saat melakukan ibadah
Karena yang ditangkap adalah framing paksaan dan ancaman yang ada dalam pikiran kita
Misalnya begini deh, saat Allah memanggil dan berkumandang adzan
Kalau boleh jujur, mohon maaf.. biasanya apa yang sering kita rasakan?
Muncul perasaan rindu kah mau ketemu Allah? Atau malah sebaliknya?
Pernah gak sih, reflek diri kita yang muncul, seperti ini
Ya Allah, sudah dzuhur aja lagi..
Ahh, sudah ashar aja nih..
Yah, sudah magrib aja, cepet banget..
Yah sudah Isya aja, capeekk habis kerjaa…
Yah sudah subuh, padahal masih ngantuk..
Dll
Kita mengutuk waktu panggilan tersebut dan merasa berat memenuhi panggilan-Nya
Mohon maaf ini bukan kita, tapi ini tentang SAYA (menunjuk diri sendiri)
Teman teman pernah juga kahh?
Akhirnya semakin kesini dan beranjak dewasa kita menjadi semakin paham, bahwa ternyata Allah sengaja menciptakan kita karena Allah sayang banget sama kita, agar kita bisa merasakan dan menikmati limpahan nikmat dan kasih sayang-Nya
Karena tidak mungkin kan kita bisa merasakan semua nikmat yang bisa kita rasakan saat ini, kalau kita tidak hidup, betul??
Bahkan pertama kali manusia diciptakan tempatnya dimana?
Di syurga.
Bisa dikatakan kita ini aslinya tuh penduduk syurga
Kita berdoa, semoga Allah selalu bimbing langkah kita dan kumpulkan kembali di syurga-Nya kelak, aamiin
Sekali lagi, kita diciptakan supaya disayang sama Allah, supaya bisa merasakan limpahan nikmat dan rezeki dari-Nya, Allah baik banget kan?
Dalam hadist juga dijelaskan “setiap jiwa tidak akan bertemu ajalnya, sebelum dia habiskan semua jatah rezekinya”
Ibarat kalau ada yang mau meninggal, kemudian ada satu butir nasi yang belum masuk kedalam lambung dan menjadi rezekinya
Itu orang belum bisa meninggal sampai rezeki satu butir nasi tersebut dinikmati (menjadi rezeki)
Biar lebih kebayang lagi, coba kita sama sama letakan tangan kanan diatas dada lalu rasakan detak jantung di dalam dada kita
Coba rasakan ritme setiap detakannya, sudah? kerasa?
Pertanyaannya, pernahkah kita ada effort untuk mengatur ngatur jantung ini agar terus bergerak?
Siapa yang mengatur jantung ini bisa bekerja otomatis? Allah?
Kebayang gak kalau Allah serahin ke kita untuk mengatur sendiri setiap detakan jantung ini?
Ya Allah, kebayang gimana repotnya? lupa ngedetakin sedetik aja, gimana tuh rasanya?
Masya Allah, itu baru satu jenis dari sekian banyak nikmat dan rezeki dari-Nya
Yang itu saja kalau kita syukuri, rasa rasanya tidak akan pernah kering lidah ini untuk mengucap syukur, betul?
Tapi nyatanya? sedikit sekali kita bersyukur
Kita lebih sering meminta minta yang belum ada bahkan mengkhawatirkan sesuatu yang kita belum punya
Bahkan kita sering lupa, harusnya kita lebih mengkhawatirkan dalam kondisi apa kita pulang ke Allah?
Hingga Allah berulang kali menyampaikan di surat Ar Rahman
فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?”
Balik lagi, lantas kenapa, kok disuruh ibadah juga sih?
Saya ingat banget guru saya pernah menjawab pertanyaan saya ini
Sebagai analogi, dulu waktu kita kecil, orang tua kita maksa agar kita mau masuk sekolah kan?
Betul?
Padahal sebagai anak kecil kita maunya cuma main, gak mau sekolah, gak mau belajar
Tapi orang tua tetap memaksa agar kita sekolah, ditambah lagi ikut les, ekskul dsb,
bahkan pernah gak, dulu teman teman dimarahi bahkan “dihukum” kalau tidak mau masuk sekolah
Relate?
Pertanyaannya, kenapa orang tua kita melakukan hal demikian?
Padahal mereka sebenarnya repot, belum lagi keluar biaya yang besar, belum lagi pengorbanan waktu mengantar jemput dll
Apa karena orang tua kita benci sama kita, gak mau kita ada di rumah?
Nyatanya bukan begitu kan?
itu semua mereka lakukan saking mereka sayang dan cinta sama kita, supaya kita berpendidikan, supaya kita sukses, makanya kita dipaksa sekolah
Mereka tau bahwa dengan sekolah akan meningkatkan kualitas hidup kita saat kita sudah dewasa nanti (saat masih kecil kita belum paham ini)
Teman teman yang sekarang menjadi orang tua, pasti sekarang merasakan seperti itu juga kan?
Bahkan banyak orang tua di luar sana yang rela berhutang sana sini supaya anaknya bisa sekolah
Begitupun dengan yang Allah ke kita..
Karena rasa cintanya Allah kepada kita yang melebihi apapun
Maka, kita diperintahkan untuk ibadah..
Supaya kita tidak tersesat di dunia ini
Lagi pula memangnya siapa yang menciptakan ini semua?
Allah?
Maka, Allah yang paling berhak untuk menciptakan semua aturan aturan ini
sepakat yah?
Guru saya juga pernah menyampaikan
Setidaknya ada 3 kelompok orang dalam level ibadah
Pertama kelompok pedagang
Kelompok ini mengerjakan ibadah karena ada sesuatu yang ingin didapatkannya, misalnya mau sedekah karena ketika sedekah akan dibalas lebih banyak, mengerjakan shalat dhuha supaya rezeki lancar, mau tahajud biar bisnis lancar, dan lain lain.
Intinya, bagian dari ibadahnya diniatkan untuk mendapatkan manfaat dunia ini.
Tidak ada masalah, karena itu merupakan janji Allah juga
Kedua kelompok penakut
Kelompok ini mengerjakan ibadah atas rasa takut jika tidak mengerjakannya, misalnya shalat karena rasa takut mendapat dosa, takut masuk neraka, takut dimarahin orang tua, dan lain lain
Ketiga kelompok pecinta
Mereka yang berada di level ini mengerjakan segala perintah, melakukan segala ibadah didasari oleh rasa cinta kepada Rabb-Nya
Shalat karena rasa cinta
Puasa karena rasa cinta
Segala aktifitas ibadah yang dilakukan karena rasa cinta, sehingga menjalakan aktifitas ibadahnya memiliki semangat yang berbeda, rasa yang penuh dengan kerinduan.
Mungkin dahulu kita diajarkan beribadah agar dapat pahala atau agar terhindar dari dosa, itu sama sekali tidak salah dan tidak masalah.
Namun satu lagi yang perlu kita tingkatkan yaitu kita melakukan ibadah karena kecintaan kita kepada Allah Ta’ala
Saat melakukan dengan cinta, maka yang ada hanya harap agar Allah cinta, benar benar karena hanya mengharapkan Allah sayang, Allah berkahi, dan Allah ridhoi kita sebagai hamba-Nya
Kita lanjut dahulu di poin berikutnya yah
2.Sebagai khalifah
Sebagaimana yang Allah sampaikan dalam surat Al Baqarah ayat 30
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
Menjadi pengelola, maka kita perlu mengeksplorasi potensi di dalam diri untuk menghadirkan manfaat dan membantu sesama.
Menjadi contoh yang baik serta memberikan kontribusi positif adalah makna dari predikat yang diamanahkan kepada kita (khalifah).
Tidak terlalu muluk muluk, dimulai dari mengelola diri sendiri terlebih dahulu
Meningkatkan kualitas diri, memperbaiki diri dan memanage diri menjadi lebih baik
“Manage your self before manage the other”
Kuncinya : memberikan potensi terbaik di dalam diri dalam segala hal
Dalam bekerja memberikan prestasi prestasi terbaik
Dalam bersosial memberikan kepedulian dan kenyamanan
Menjadi diri yang professional dan memiliki motivasi yang tinggi.
Lakukan dari hal kecil yang bisa kita lakukan, dari yang bisa kita kerjakan, untuk diri dan orang orang sekitar.
Kemudian teman teman, yang terpenting juga adalah, di dalam menjalankan peran kita dikehidupan ini
yang menjadi patokan atau rujukan kita adalah keputusan dan aturan aturannya Allah
Bukan aturan dan selera nafsu diri kita masing masing, karena ketika kita mendekrarasikan beriman kepada Allah, maka kita tunduk dalam aturan aturan-Nya
Untuk memperkaya materi sesi ini teman teman boleh menyimak vidio berikut ini ya
(pastikan tonton dulu vidionya sebelum lanjut)
Sudah selesai tonton vidionya?
Kalau sudah, yuk lanjut ke sesi selanjutnya
Barakallahu Fiikum🥰

@momentpulih