Materi 1 sesi 2, tentang rendah hati

Bismillahirahmanirahiim

Kita lanjut kembali ya di sesi berikutnya

Dalam Al Qur’an surah Al-Qasas Ayat 56

Allah SWT berfirman:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”

Ada dua poin yang ingin di highlight disini

Pertama, Nabi tidak dapat memberikan petunjuk sekalipun untuk orang yang dikasihi.

Kedua, Allah mengetahui orang yang mau menerima petunjuk.

Yang kita perlu pahami adalah, tidak ada seorangpun yang bisa memberikan (petunjuk)hidayah sekelas nabi sekalipun.

Misalnya, Nabi Nuh, tidak bisa memberikan hidayah kepada anaknya, sehingga anaknya tidak mau ikut dalam barisan Nabi Nuh

Nabi Muhammad, tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya, sehingga pamannya tidak masuk islam sampai di akhir nafasnya, betul?

Itu sekelas para nabi loh, pertanyaannya kita ini siapa? 

Kita sama sekali tidak bisa memberikan hidayah, bahkan kepada orang yang kita cintai sekalipun.

Anak kita, orang tua kita, pasangan kita dan siapapun.

Makanya kadang kita jadi stress kalau pengen ngerubah orang dan berharap orang tersebut bisa berubah.

Karena Allah-lah yang merubah dan memberikan petunjuk, tugas kita hanya sampai di menyampaikan.

hidayah (petunjuk) adalah hal MUTLAK yang diberikan langsung oleh Allah..

Bukan dari Ustadz/Ustadzah

Bukan dari siapa siapa..

Apalagi dari tulisan ini… wah bukan bukan dan bukan..

Semua berasal Dari-Nya, semuanya dan salah satunya mungkin pesan ini hanya salah satu wasilahnya saja

Dan kalau ada sesuatu yang mahal yang tidak bisa dibeli dengan uang, hal tersebut adalah hidayah

Lalu apa sih syaratnya agar kita berhak menerima hidayah?

Apakah kepantasan diri, kesucian atau apa?

Jawabannya juga ada di ayat tersebut : 

وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

“Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” [QS Al Qasash 56]

Ya Allah yang paling tau, siapa siapa saja yang benar benar ingin mendapatkan petunjuk dan menerima hidayah dariNya..

Syaratnya, kita MAU membuka diri dan merendahkan hati untuk menerima petunjuk hidayah tersebut, entah dari jalan manapun wasilah yang Allah berikan..

MERENDAHKAN HATI adalah kunci dari pintu hidayah, rendah hati juga gerbang masuknya Ilmu

Teman teman masih ingat kisah dua Umar pada jaman nabi?

Jadi waktu itu ada dua umar yang disegani dan ditakuti, yang satu umar bin Khattab dan satu lagi umar bin Hisyam (abu jahal) 

Keduanya dikenal orang yang sangat vokal membenci Nabi, yang memiliki pengaruh sangat besar pada zaman tersebut.

Kalau kita ibaratkan zaman sekarang, mereka itu adalah influencer besar atau orang yang punya banyak sekali followers, dan apapun yang dikatakannya selalu diikuti banyak orang

Saking sangat berpengaruhnya 2 Umar ini, ada doa nabi yang spesial yang ditunjukan kepada keduanya

Nabi berdoa “Ya Allah, muliakanlah agama Islam ini dengan salah satu diantara dua Umar. Umar bin Khathab atau Amru bin Hisyam.” (HR. Tirmidzi)

Betull, orang yang punya pengaruh kuat dan kemudian masuk islam, maka semua orang yang kagum padanya akan ikut masuk islam.

Namun pada akhirnya, siapakah diantara dua umar itu yang mendapat hidayah masuk islam?

Yups, seperti yang kita tahu Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang mendapat hidayah masuk islam 

Kalau kita kembali membaca baca shirahnya.

Dikisahkan saat beliau pergi dengan keaadaan marah ke tempat saudara perempuan dan suaminya yang sudah memeluk islam yang kala itu sedang membaca surat Thaha

Umar bin khatab tidak langsung menutup telinga, menghina atau memaki maki bacaan tersebut, namun beliau mau menyimak, bahkan mencoba mempelajari dan membaca secara langsung

Pada akhirnya Allah sentuh dan lembutkan hatinya dan diberikan jalan hidayah kepada beliau, bahkan Masya Allah , beliau dimakamkan persis disamping makam manusia paling mulia Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.

Padahal sebelumnya beliau adalah orang yang sangat membenci Rasul 

Kebayang? bertolak belakang sekali bukan??

Teman teman, kita bisa banyak mengambil hikmah mahal dari kisah ini

Tentang kerendahan hati seorang Umar bin Khattab yang membuatnya mendapatkan kedudukan yang mulia.

kerendahan hati mau menyimak kalam Allah dalam Al-Qur’an.

beliau tidak menutup telinga, menghina atau mencaci bacaan tersebut.

Sifat ini yang mungkin tidak ada di umar yang satu lagi yaitu abu Jahal dimana beliau merasa, sombong dan angkuh.

Dari kisah ini kita mendapat hikmah berharga yaitu “Rendah Hati dapat membuka jalan hidayah dan ilmu”

Ketika sedang belajar, dalam majelis menuntut ilmu atau dimanapun, kita mungkin sering mendapati sikap seperti ini

“ooh yang begini mah saya udah tau dari lama, ga usah diulang lagi, bosen!”

“Oh gini doang? udah tau dari dulu kali”

Kalau mendapati diri kita yang demikian, maka kita perlu merefleksikan diri

Karena sesuatu yang penuh maka tidak ada lagi ruang untuk diisi 

Kemudian, rendah hati juga bukan sekedar sikap yang di kalem kalemin..

Bukan tentang suara yang di lembut lembutin..

Bukan tentang pakaian yang sengaja dibuat sederhana..

Apalagi tentang diri yang di rendah rendahin, bukan itu, karena berbeda antara rendah hati dan merendahkan diri 

Rendah hati itu harus, merendahkan diri itu tidak boleh.⛔️

Di surat At tiin Allah sampaikan bahwa “manusia diciptakan dalam sebaik baiknya bentuk”.

Eh,kita malah rendah rendahin, walaupun dalam kemasan bercandaan begini

“Ah, saya mah emang begini mbak, pendidikan juga terbatas”

“Aku mah apa atuh, cuma remah remahan rengginang”

Model model seperti itu  bagian dari merendahkan diri 😢

Dan yang menarik adalah : “Orang yang rendah hati bukan merendahkan diri, sedangkan ada orang yang merendahkan diri agar terlihat rendah hati”

Jadi, Rendah hati itu tentang RESPON.

Dalam Al Qur’an Allah berfirman : “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS Al Furqan 63)

Allah punya standar khusus dalam rendah hati,

Yaitu Selalu memberikan respon terbaik dalam keadaan apapun.

Bahkan saat ada yang berbeda pendapat, menghina, mengkritik, hingga mencaci dll. 

Pribadi rendah hati selalu memberikan respon dengan respon yang tenang damai dan menentramkan 

Misal begini, saat orang lain berbicara dengan marah dan nada tinggi, mereka tetap merespon dengan santun :

“Terimakasih ya kak atas masukannya, saya yang perlu belajar banyak lagi nih 🙂”

“Saya yang salah mbak 🙂 Terimakasih banyak ya sudah mengingatkan saya”

Bisa jadi dirinya dalam posisi yang benar, namun lebih memilih merespon jalan kedamaian (terkecuali perihal aqidah dan syariat),

Bukan malah lebih galak, nyolot dan nge gas balik

“Heyy! kamu ini ya gak tau apa saya ini siapa?”

“Kamu ini sok tau banget pake acara ngajarin saya segala, saya ini lebih tua dari kamu loh!”

“Di tempat ini saya lebih senior daripada kamu ya, gak usah sok tau kamu!”

Dan yang lebih parah, jika seperti itu terjadi karena gengsi kalau terlihat salah, karena takut gak dihormati lagi kalau terlihat salah, sebenarnya dirinya itu tau yang memberikan masukan itu benar

Namun ditolak mentah mentah masukan kebaikan tersebut, dijadikan setan perkataan tersebut seolah benar dan terasa baik dilakukan, padahal hal itu menyakiti hati saudaranya sendiri 

Astagfirullahaladzim 🥲

Boleh diingat ingat pesan berikut ini 👇

“Ketika kita merasa sakit hati atas sikap atau perkataan orang lain, disaat yang sama Allah sedang mengajarkan diri kita untuk  menjaga sikap dan perkataan yang dapat menyakiti orang lain”

Dan kalau boleh jujur dengan diri sendiri, pesan orang lain yang tidak mengenakan hati masih terkesan jauh lebih baik daripada aib kita yang sebenarnya yang sampai dengan saat ini masih di tutup rapih oleh Allah, betul? 😔

Kita bukan sedang dihina, tapi memang beneran hina dihadapan-Nya..

Bukan di rendahkan, tapi diri kita yang selalu merasa tinggi..

Bukan di suudhzonkan, namun memang masih banyak prilaku belum baik dalam diri ini..

Maka teman teman tenanglah, rendahkan hati kita untuk mau mendengar semuanya.

Jika ungkapannya benar, sadari dan akui kemudian perbaiki diri

Jika ungkapannya salah, anggap saja sebagai bagian dari pengingat diri

Inilah mengapa rendah hati adalah gerbang hidayah dan ilmu?

Karena dengan modal sifat ini kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan terbuka atas segala masukan masukan terbaik ✍️

Terkadang kemasan/kulit masukan kebaikan memang tidak selalu dibungkus dengan hal yang menyenangkan, bahkan sering menggores hati

Namun pribadi rendah hati tidak melihat bungkus luarnya, yang dilihat adalah isinya atau pesan pesan kebaikan untuk perbaikan dirinya.

Bisa jadi Allah yang ingin menyampaikan pesan kebaikan tersebut, melalui wasilah orang lain yang menyampaikan

Terlebih juga sifat ilmu itu seperti air.

Air itu pasti selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, maka jika kita ingin menjadi pribadi yang memiliki banyak ilmu, kita harus menjadi pribadi yang rendah hati, menerapkan ilmu padi 🤗

Kita berdoa, semoga Allah jadikan kita pribadi yang rendah hatinya dan tenang jiwanya, agar hati kita senantiasa mudah menerima manisnya Hidayah dan Ilmu

Allahumma Aamiin

Untuk memperkaya pembahasan ini, temen temen boleh tonton vidio berikut ini ya :

👇👇👇

Stop / matikan audio sebelum menyimak vidio disini 👇

Sudah selesai tonton vidionya?

Kalau sudah, yuk lanjut ke sesi selanjutnya

Barakallahu Fiikum🥰

Tidak diperkenankan mencopy, menyebarkan seluruh atau sebagian dari isi konten ini kepada selain peserta ya, barakallahu fiikum 🥰

@momentpulih

Program Ini Dipersembahkan Sepenuh Cinta Untuk Kesehatan Mental Muslimah Indonesia ❤️