
@momentpulih

3. Berperan dalam Dakwah
Dalam surat An nahl : 125 Allah berfirman
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik”
Sampai pada akhirnya, apa yang sudah kita lakukan memiliki kekuatan untuk mendorong banyak orang di dalam jalan kebaikan.
Pesan yang perlu kita ingat adalah dakwah ini bukan hanya tugas seorang ustadz atau ustadzah namun tugas kita semua sebagai umat islam
Dakwah tidak selalu tentang berbicara di depan banyak orang menggunakan microphone menggunakan mimbar
Ajakan kebaikan kepada lingkaran kecil satu orang teman terdekat, juga termasuk bagian bagi dakwah
Bahkan menulis hal positif, membuat konten ajakan kebaikan di media sosial merupakan perjuangan dakwah.
Oh iya, ada yang menarik disini
Jadi kita itu selalu diajarkan untuk mendengarkan apa yang orang ucapkan (isinya) bukan melihat siapa orang yang mengucapkan.
Betul ya?
Sayangnya sebagian orang diluar sana (yang saya perhatikan) tidak selalu demikian
mereka tidak sekedar mendengarkan ucapan, mereka juga memperhatikan siapa orang yang menyampaikannya.
Akhirnya kalau orang yang ngomong tidak punya authority, kita seringkali mengabaikan.
Harusnya, kita melihat apa isi pesannya, meskipun melalui konten FYP yang lewat
Bahkan disampaikan oleh anak kecil sekalipun, kalau hati kita connect (terhubung) ke Allah, pasti kita merasa bahwa itu adalah pesan dari Allah untuk kita
Yang menyampaikan itu hanyalah wasilahnya saja, yang Allah pinjam lisannya untuk ngomong ke kita.
Pernah se-peka inikah sama caranya Allah? ^^
Misalnya si A menyampaikan “Kak, istighfar itu melancarkan rezeki”
Sedangkan si A ini belum keliatan kaya, dalam bekerja tidak pernah tekun dan karirnya tidak jelas bahkan dikenal sebagai orang pemalas
Sedangkan ada si B juga menyampaikan pesan yang sama, namun si B ini memiliki karir yang bagus, prestasinya dikenal dimana mana, memiliki kepribadian yang baik dan gemar memberi kepada sesama
Kira kira dengan pesan yang sama dan pembawaan yang sama, masyarakat cenderung akan percaya yang mana? Ke A? Ke B? atau ke A dan B responnya sama?
Teman teman semuanya..
Mungkin… kondisi kita saat ini belum ideal, kita masih suka diremehkan dll
Namun tetaplah menjadi pribadi yang terus menyampaikan kebaikan, berbuat baik dan menyampaikan
Percayalah, dengan izin Allah, suatu saat nanti kondisi ini akan berubah, maksimalkan ikhtiar, tekun, keluarkan potensi diri dengan maksimal dimanapun berada dan jangan pernah menyerah ️
Yang perlu dirubah adalah mindsetnya
Bukan karena kondisi kita yang belum baik sehingga kita tidak mau menyampaikan kebaikan dan diam saja terhadap kedzaliman.
Kalau menunggu layak baru kemudian kita menyampaikan kebaikan, maka tidak akan ada orang yang akan menyampaikan pesan kebaikan karena semua merasa belum layak
Maka terus perbaiki diri, tingatkan terus kualitas diri, jangan berhenti untuk menyampaikan kebaikan dan menjadi wasilah hidayah bagi banyak orang
Menyampaikan kebaikan itu bukan berarti diri kita sudah sepenuhnya sudah baik, namun salah satunya untuk menekan potensi keburukan dalam diri kita sehingga kita selalu terdorong berbuat baik
Adapun anugrah kesuksesan yang kemudian Allah berikan, jadikan sebagai ladang ibadah dengan terus mengajak sebanyaknya orang melakukan kebaikan, sepakat yah? 🙂
Keluargaku semua, kita balik lagi tentang siapa status kita dihadapannya
Karena di dalam kehidupan ini hanya ada dua status
Yaitu, Tuhan dan Hamba
Salah satu yang perlu kita sadari dalam menjalankan kehidupan ini adalah memiliki kesadaran yang utuh bahwa kita adalah seorang hamba
Menjadi hamba ini, bukan sekedar predikat formalitas
Namun SECARA SADAR kita jalankan dengan ikhlas, melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang.
Bahkan dahulu saat bentuk kita masih berupa ruh, sebelum wujud kita terbentuk, kita pernah berikrar dengan Allah, (surat A’raaf ayat 172)
Allah bertanya : Alastu birabbikum “bukankah aku ini Tuhanmu?”
Kita menjawab : qalu bala syahidna “Betul Ya Allah (engkau tuhan kami), kami menjadi saksi”
Dahulu kita pernah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita dan satu satunya tempat kita bersandar serta bergantung
Maka betul, status kita adalah Hamba Allah
Berpola pikir sebagai seorang hamba, artinya kita memiliki kekuatan keyakinan di dalam diri bahwa tiada satu pun yang bisa memberikan jaminan, memberikan pertolongan, memberikan kekuatan dan memberikan kemudahan kecuali hanya Allah ta’ala semata
Inilah inner mindset seorang pemenang teman teman.
Mindset orang yang sangat sulitt dikalahkan, karena memiliki hati yang tidak terbelenggu dengan penghambaan kepada hal apapun dan kepada siapapun kecuali hanya kepada-Nya
Dan inilah sebuah titik sukses dalam artian yang sebenarnya, yaitu mentalitas sebagai seorang hamba Allah, tentu sukses dalam artian yang lebih luas ya
Kalau kita mengartikan sukses kepada mereka yang berhasil mengumpulkan materi,
Maka berapa banyak orang di muka bumi ini yang berhasil mengumpulkan materi namun hatinya masih merasa empty (hampa) melewati hari hari dengan kegelisahan takut harta dan kekayaannya berkurang?
Kalau mengartikan sukses kepada mereka yang berhasil menduduki jabatan yang tinggi
Maka apa kabar dengan orang yang memiliki jabatan yang tinggi namun ketenangan hidup tidak kunjung menghampiri, sibuk tiada henti, gak punya waktu hingga lupa diri?
Maka bicara mengenai sukses, kita perlu memaknai bahwa sukses bukan sekedar pencapaian, namun sukses adalah irisan dari pencapaian dan juga penghambaan

Banyak orang yang hanya mencari pemcapaian, penghidupan, kekayaan, jabatan dan pencapaian pencapaian lainnya,
Namun selama keseimbangan yang ada di dalam hati tidak balance
Antara pencapaian dan penghambaan maka mereka tidak akan pernah menemukan apa yang mereka cari.
Menghamba itu bisa diartikan memberikan penuh perhatian, selalu memikirkan, mengejar mati matian, menyerahkan segala urusan serta menggantungkan semua harapan
Pertannyaanya adalah :
Kemanakah selama ini kita memberikan perhatian?
Sesuatu apa yang selalu kita pikirkan?
Sesuatu apa yang kita kejar mati matian?
Kepada siapa kita menyerahkan urusan dan menggantungkan harapan?
Menghamba kepada selain Allah terbukti menjadikan kita pribadi yang rapuh hingga membawa kesengsaraan
Menghamba kepada uang membuat kita gelisah dan kelelahan
Menghamba kepada pujian dan pengakuan mengantarkan kita kepada kekecewaan
Menghamba kepada jabatan membuat kita arogan dan tidak pernah merasakan kepuasan
Ketika kita menghamba kepada selain Allah, disitulah awal titik permasalahan
Misalnya, akan ada potensi untuk berfikir :
“Gakpapa kok, hutang riba sedikit buat kelancaran usaha”
“Gakpapa sedikit berdusta yang penting orang menganggap saya kaya”
“Gakpapa kok dzolim dikit biar naik jabatan di kantor”
Dan satu hal lagii, yang ini mungkin lebih haluss dan agak sulit terdekteksi,
yaitu menghamba kepada usaha sendiri atau ikhtiar sendiri..
Gini teman teman, kita melakukan ikhtiar itu wajar, berusaha itu wajar, namun kalau dengan ikhtiar kita malah bergantung dan menaruh harapan itu tidak wajar
Dampaknya jadi memiliki keyakinan begini
Kalau gak ngatur strategi, gak bakalan bisa sukses?
Kalau gak kerja keras, bakalan hidup susah?
Kalau gak cari cuan gimana bisa makan?
Mohon maaf perlu Ami katakan bahwa keyakinan itu kurang tepat
Yang bisa bikin kita sukses atau enggak siapa?
Yang bisa buat hidup kita lapang atau susah siapa?
Yang ngasih makan kita, dan ngasih rezeki siapa?
Walaupun kita sudah atur strategi, kita sudah bekerja keras namun kalau Allah belum berkehendak, bagaimana?
Artinya apa?
Mau sengotot apapun kita ikhitiar atau berusaha kalau Allah belum berkehendak maka tidak akan terjadi, Gimana masih mau ngeyel juga? hehe
Jadi melalui pesan ini, kami pengen mengajak teman teman untuk kita sama sama merenung bahwa kita ini sejatinya makhluk yang lemah kalau Allah gak nolongin kita
Tapi kalau menurunkan pertolonganNya, hidup kita ini menjadi sangat mudah
kita sedikit mengingat proses keadaan yang dulu pernah sama sama kita alami
Mulai dari waktu kita masih bayi, waktu kita masih menjadi janin dalam perut ibunda, ikhtiar apa yang saat itu bisa kita lakukan?
Apakah dulu kita yang berusaha membentuk diri kita sendiri sehingga menjadi sempurna seperti saat ini?
Siapakah yang berkehendak membentuk diri kita saat itu? Allah?
Atau, pernah gak saat itu kita ikhtiar memasang plasenta / ari ari dengan tangan dan kaki sendiri agar bisa makan pada saat itu?
Siapa kira kira yang memasang plasenta sehingga terpasang sempurna dalam perut ibunda kita, sehingga dari situ kita bisa dapat asupan nutrisi? Allah?
Sekali lagi teman teman, kita ini bukan siapa siapa dan gak bisa apa apa, kita ini makhluk yang sangat lemah
Kita gak bisa apa apa kalau Allah gak nolongin, kita gak berdaya kalau Allah gak mau bimbing diri kita yang begitu lemah ini
Tapii, seiring berjalannya waktu, saat Allah sudah sempurnakan fisik kita, sempurnakan akal dan pikiran kita(logika jalan) saat ini,
Mengapa kok bisa bisanya kita merasa bisa tanpa bantuan Allah?
Bahkan diatas pencapaian dan keberhasilan kita merasa
“Ini semua karena aku pintar, ini semua karena aku memang hebat, ini semua karena aku usaha dan kerja keras…”
Dimana kah kata, laa hawla walaa quwwata illa billah yang sering kita ucapkan?
Tapi jangan sampai salaah juga menterjemahkan ini ya teman teman
Menganggap kalau ikhtiar itu gak penting
No
Kerja keras (Ikhtiar) tetap harus dilakukan, bedanya ada di keyakinan, menganggap bukan ikhtiar yang bikin kita berhasil, bukan karena kerja keras kita, melainkan KARENA ALLAH memberikan pertolongan sehingga kita berhasil
Jadi, segala bentuk keberhasilan kita, kesuksesan kita dan pencapaian kita BUKAN karena kita yang hebat
Namun karena Allah menolong dan memudahkan urusan kita
Dengan kondisi state hati yang tetap menghamba, bersandar dan bergantung hanya kepada Allah
Seperti yang disampaikan nabi sulaiman ketika Allah melimpahkan nikmat kepadanya “hadza min fadli rabbi”
Bukan seperti qarun yang diberikan nikmat malah berkata “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku”
Maka teman teman, jangan sampai akal logika kita mengalahkan dan mendahului iman.
Alhasil, kita akan berfikir untuk mendapatkan uang, agar karir lancar atau bisnis sukses hanya berkeyakinan kepada kerja keras.
Kalo gak kerja keras ya gak bakal sukses gak bakal dapat uang.
Bersandarnya sama kerja keras, bukan ke Allah..
Ibnu athaillah dalam kitab al hikam pernah menyampaikan,“ciri ciri seseorang bergantung kepada ikhtiarnya sendiri adalah ketika hasil di akhir tidak sesuai dengan yang di harapkan, maka hatinya kecewa”
Jangan jangan selama ini kita termasuk orang yang bergatung sama kerja keras
Dampaknya lagi, kita menjadi sering terlalu khawatir dalam hal apapun..
Khawatir rezeki kita sedikit
Khawatir tidak bisa makan kalau tidak kerja..
Takut tidak punya kerja lagi kalau meninggalkan pekerjaan yang Allah haramkan
Khawatir kalau jabatan direbut orang lain, gaji menjadi turun
Khawatir dengan pesaing kalau memulai bisnis
Khawatir rugi sebelum mencoba bisnis
Dlsb..
Melalui pesan ini kami ingin mengajak teman teman untuk kita bersama sama Balik ke posisi Hamba lagi..
Hamba itu, patuh teman teman..
Patuh dan manut mau Allah atur kita gimana, Allah jadikan kita seperti apa, mau Allah bawa kita kemana..
Ingat kisah salah satu kisah nabi Ibrahim dan anaknya Ismail?
Saat Allah perintahkan menyembelih putra kesayangannya, apa respon Nabi Ibrahim?
Apakah menanyakan kembali hal tersebut? Kenapa harus begini ya Allah?
Apakah beliau membantah Allah?
Sama sekali tidak..
Karena Nabi Ibrahim dan Ismail sadar mereka adalah Hamba Allah..
Sehingga Nabi Ibrahim dan putranya ismail patuh/manut atas perintah Allah..
Teman teman, keluargaku semua, Allah itu gak mungkin banget tega dengan makhluk yang diciptakannya sendiri..
Gak mungkin dzalim sama kita, hamba hambaNya.. gak mungkin
Justru Allah itu sangat sayang bangeet dengan kita melebihi apapun dan siapapun
Bahkan lebih sayang daripada kita ke diri kita sendiri, melebihi sayangnya ibu kepada anaknya
Lihat, apa yang terjadi dengan Nabi Ibrahim dan Ismail saat patuh sama Allah..
Allah angkat derajatnya, Allah berikan kebaikan kepada keduanya, bahkan menjadi sebuah syariat dan kejadian tersebut selalu diingat oleh semua manusia hingga saat ini
Teman teman, Hamba itu…
Hanya bersandar penuh dan patuh kepadaNya..
Hanya mengharap Ridha dariNya..
Hanya ingin disayang sama Allah..
Apapun yang teman teman semua sedang usahakan, yang sedang teman teman inginkan, semuanya boleh, silahkan saja
Kejarlah.. Usahakanlah dengan maksimal.. bahkan ini sebuah keharusan
Namun yang perlu kita ingat adalah..
Tugas kita cuma sampai Ikhtiar..
Maka sempurnakanlah Ikhtiar, hasilnya terserah Allah saja 🙂
Yang penting Engkau Ridha dengan saya ya Allah..
Yang penting Engkau sayang sama saya ya Allah..
Yang banyak belum tentu baik menurut Allah dan sedikit belum tentu buruk menurut Allah..
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”(Al-Baqarah: 216)
Jika terpautnya hati hanya ke Allah, di kasih Allah alhamdulillah senang, jika belum alhamdulillah senang juga, gak ada masalah
Sebagaimana Ali bin Abi Thalib berkata
“Saya meminta sesuatu kepada Allah. Jika Allah mengabulkannya untuk saya maka saya gembira SEKALI saja. Namun, jika Allah tidak memberikannya kepada saya maka saya gembira SEPULUH kali lipat. Sebab, yang pertama itu pilihan saya. Sedangkan yang kedua itu pilihan Allah SWT.”
Umar bin Khattab pernah berkata, “Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa.”
Tugas kita yakin akan segala janji-Nya..
Allah sudah jamin semuanya..
Allah sudah atur skenario hidup kita..
Maka kita berusaha menjadi hamba yang patuh dan bersandar total kepadaNya.
Lantas untuk apa kita masih merasa khawatir? Padahal semuanya sudah disiapkan untuk kita? Doa doa Allah janjikan pengabulannya untuk kita
Semoga setelah melewati materi ini kita semakin menjadi Hamba yang tahu diri dihadapan-Nya
Terakhir, untuk memperkaya isi materi kedua ini, teman teman boleh tonton vidio berikut ini ya ^^
SESI LATIHAN DAN PRAKTIK
Sudah selesai tonton vidionya?
Kalau sudah, yuk kita lanjutkan, berikutnya adalah sesi latihan
Latihan materi 2
1. Setelah memahami materi kedua ini, kira kira apa hal penting berupa insight / hikmah / pelajaran yang teman teman dapatkan?
Jawaban pertanyaan nomor 1 boleh kirim ke pesan personal sama seperti tugas sebelumnya (minimal 1 hal) boleh share berupa pesan atau teks ke whatsapp atau foto catatan teman teman
2. Praktek dengan sadar untuk menghilangkan semua kebergantungan/kebersandaran kita terhadap makhluk atau hal apapun apalagi kepada sesuatu yang dianggap sebagai benda keberuntungan. Buang jauh jauh..
Ketika masih menaruh harapan kepada selain Allah artinya masih ada (berhala) lain di dalam hati kita
Bisnis boleh, berkarir boleh, bekerja keras boleh, bersosialisasi pun boleh, yang tidak boleh adalah ketika kita bersandar dan bergantung kepada selain Allah
Seperti salah satu nasihat Imam syafi’i :
“Ketika kamu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNya”
Dalam kesempatan lain Ali bin abi thalib menyampaikan :
“Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia”
Kita hanya butuh sama Allah, hanya boleh bergantung dan bersandar hanya kepada Allah, dan sudah cukup ketika Allah selalu bersama dan menemani kita
Me + God (Allah) = enough (cukup)
Ketika hal ini dilakukan, akan ada kekuatan sehingga lebih percaya diri dalam melakukan hal yang besar, coba dipraktikan dan dirasakan sendiri
3. Menyendiri, introspeksi dan lakukan evaluasi diri (pertaubatan)
Sampai dengan hari ini mungkin ada Ikhtiar/usaha hingga aktifitas yang selama ini bertentangan dengan aturan2 Allah
yang mungkin hal tersebut membuat Allah tidak Ridha dengan kita
Masih ingat, bahwa kisah manusia pertama itu tempatnya di syurga yaitu nabi Adam, karena satu dosa yang dilakukannya maka Nabi Adam dan istrinya Hawa diturunkan ke dunia
Kesimpulannya, kita belajar bahwa dosa akan membuat kita sengsara
Maka teman teman luangkan waktu untuk ngobrol dan mengakui kesalahan diri, menjeda sejenak aktivitas untuk melihat ke dalam diri, introspeksi evaluasi diri dan bertaubat kepada Alllah
Rumusnya : sadari – terima – lalu perbaiki
Kita perlu sadari bahwa kita makhluk yang banyak dosanya
Kita juga perlu terima kenyataan itu, dan tidak berlarut larut bahkan berputus asa karena dosa
Karena kita punya Allah yang pintu maaf dan ampunannya jauh lebih lebah daripada dosa dosa kita
Kemudian perbaiki, yaitu kita bertekad untuk tidak terjerumus kembali
Allah itu maha ampunnya dan maafnya besarr banget, kita bisa simak di vidio curhat seorang hamba berikut ini 👇
4. Kalau maksiat terbukti membuat kita sengsara, maka sebaliknya ketaatan akan membuat kita bahagia
Maka melalui sesi ini kita coba melakukan monitoring dan evaluasi atas aktifitas ibadah harian kita
Atau teman teman mungkin familiar dengan ceklis ibadah yaumiyah, untuk formatnya teman teman bisa klik dan download dibawah ini
Filenya boleh teman teman print dan diisi setiap harinya, semoga Allah mudahkan 🤲😊

@momentpulih